Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 24 desember 2011. Saya dan keluarga berangkat menuju kota yang orang bilang itu kota seneng banget ngirim hujan ke kota- kota lain, (ngirim tuh makanan, ini malah hujan). Bogor. "Bogor kota beriman", itulah ucapan selamat datang yang terpampang di papan besar. Saya sempat berfikir, apa betul kota ini benar- benar kota yang beriman?
Dugaan saya benar, enggak lama setelah masuk kota bogor hujan pun turun dan lumayan lebat. Berharap ini hujan segera berhenti ketika saya sampai di kawasan puncak, dan ternyata harapan saya enggak terkabul (mungkin harus nunggu bintang jatuh dulu kali waktu bermohon). Alhasil, rencana kami sekeluarga untuk datang ke Safari Malam yang diadakan oleh Taman Safari Indonesia pada saat event tertentu saja akhirnya harus dibatalkan dengan sangat terpaksa. Memang, faktor batalnya rencana ini bukan hanya karena hujan aja, tapi karena kita tiba di lokasi sudah jam 19.30. Sementara acara sudah dimulai sejak 18.30 yang lalu. Rugi kan kalau harus tetap maksain untuk masuk.
Gimana enggak mau telat sampai di lokasi, jalanan di bogor aja macetnya udah kayak semut lagi jalan merayap. Padahal pada waktu itu sudah diberlakukan sistem buka tutup jalan, tapi masih aja belum bisa ngurangin kemacetan. Soalnya pada saat itu juga bertepatan dengan malam natal, mungkin banyak orang yang memilih malam natal di puncak.
Enggak lucu kan kalau harus pulang lagi ke rumah setelah sampai disini, sementara itu dijalanan sedang macet- macetnya. Well, akhirnya kita memutuskan untuk cari penginapan dulu untuk malam ini dan rencananya besok akan dilanjutkan dengan berkunjung ke Taman Safari yang siangnya aja.
Selagi menyusuri jalan puncak, banyak orang dipinggir jalan dengan memakai topi kupluk, sarung dikalungkan ke badan, membawa senter sambil di kedap kedipkan ke jalan dan memasang papan yang bertuliskan "SEWA VILLA DAN KAMAR". Saya sempet penasaran bagaimana orang- orang ini bertransaksi apabila ada yang ingin menyewa jasanya dan bagaimana pula bentuk villa nya. Dengan rasa penasaran kami coba tanya ke salah satu "A'a Villa". Setelah bernegosiasi, kami diantarkan ke salah satu villa. Bayangan pertama saya adalah, villa dengan nuansa horror seperti di film- film. Dan ternyata benar aja, villa yang di tawarin itu nuansanya horror banget. Sumpah, kalau bikin film horror disini pasti dapet banget feel nya. Alhasil, dibatalkan untuk menginap di villa.
Akhirnya kita semua menginap di sebuah wisma yang cukup besar, dan yang jelas disini ramai dengan banyak orang, yang jelas gak seperti di villa horror yang tadi. Fasilitasnya pun sangat lengkap dengan harga yang tidak begitu mahal. So, it's comfortable for me..
Read More» Liburan ke Taman Safari Indonesia